Lebaran bagi kebanyakan anak adalah tentang aroma ketupat, renyah tawa keluarga, dan kemeja yang masih berbau toko. Namun bagi Raminah (9 tahun), Lebaran adalah hari di mana kesunyian terasa paling nyaring.

Bayangkan anak sekecil itu, yang belum pernah melihat wajah ayahnya sejak lahir. Ayahnya pergi sebelum Raminah sempat membuka mata ke dunia. Di rumah reyot yang dindingnya berlubang, ia hidup bersama ibunya yang jiwanya terpasung depresi berat dan Pak Dayot, pamannya yang tunanetra.

Tidak ada rendang di meja makan mereka. Seringkali, hanya pisang rebus yang menjadi pengganjal perut agar lambung kecil Raminah tidak perih menahan lapar.
Saat teman-temannya sibuk memamerkan sepatu baru yang mengkilap, Raminah hanya bisa menunduk. Ia meraba baju lamanya pakaian bekas pemberian orang yang warnanya sudah memudar dan kainnya mulai menipis. Dalam hati kecilnya yang polos, ia tidak meminta mainan mahal. Ia hanya bertanya, "Bagaimana rasanya memakai baju yang hanya milikku? Yang bukan sisa orang lain?"

Pak Dayot, dengan mata yang tak bisa melihat namun hati yang tajam, sering meraba kepala Raminah dengan tangan tuanya yang gemetar. Ia menangis tanpa suara. "Maafkan Paman, Nak. Paman tak bisa berbuat banyak," bisiknya. Kalimat itu adalah pisau yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
#PejuangKebaikan, Raminah tidak berani bermimpi. Tapi kita bisa mewujudkan mimpi itu untuknya.
Jangan biarkan Raminah dan ratusan anak yatim lainnya merasa "berbeda" dan terasing di hari kemenangan nanti. Mari kita jadikan Lebaran tahun ini momen di mana Raminah bisa tersenyum lebar, mengenakan baju terbaiknya, dan merasa bahwa ia tidak sendirian di dunia ini.
Berita Penyaluran
Program Dirilis
14 Feb 2026Para #PejuangKebaikan